Pages

Minggu, 16 Maret 2014

MALCOM BALDRIGE

Malcom baldrige merupakan suatu alat untuk mengukur perusahaan...sek sek aku lali apa kelanjutane..

ntar kalo udah paham,q update lagi lah penjelasannya..heheheheh



disini

Kamis, 06 Maret 2014

Renungan sejenak...,

Renungan sejenak...,

Jika semua yg kita kehendaki terus kita 'miliki', dari mana kita belajar 'ikhlas'
Jika semua yg kita impikan sgr 'terwujud', dari mana kita belajar 'sabar'
Jika setiap do’a kita terus 'dikabulkan', bagaimana kita dapat belajar 'ikhtiar'.

Seorang yg 'dekat' dgn Tuhan, bukan berarti tdk ada air mata
Seorang yg 'taat' pd Tuhan, bukan berarti tdk ada 'kekurangan' 
Seorang yg 'tekun' berdo’a, bukan berarti tdk ada masa- masa 'sulit'

Biarlah Tuhan yg berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, krn Tuhan tahu yg tepat untuk memberikan yg 'terbaik'.

Ketika kerjamu tdk dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar ttg 'ketulusan'
Ketika usahamu dinilai tdk penting, maka saat itu kamu sedang belajar 'keikhlasan'
Ketika hatimu terluka sangat dalam, mk saat itu kamu sedang belajar ttg 'memaafkan'
Ketika kamu lelah dan kecewa, mk saat itu kamu sedang belajar ttg 'kesungguhan'
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, mk saat itu kamu sedang belajar ttg 'ketangguhan'
Ketika kamu hrs membayar biaya yg sebenarnya tdk perlu kau tanggung, mk saat itu kamu sedang belajar ttg 'kemurah-hatian'.

Tetap semangat, tetap sabar,tetap tersenyum, krn kamu sedang menimba ilmu di 'universitas kehidupan'
Tuhan menaruhmu di 'tempatmu' yg sekarang, bukan krn 'kebetulan'

Orang yg 'hebat' tdk dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan.
Mereka dibentuk melalui 'kesukaran, tantangan dan air mata'




Semoga bermanfaat...



Sumber : disini

Senin, 25 November 2013

P#104: Akibat Pikiran Dan Sikap Negatif

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Sudah banyak bukti jika pikiran dan sikap negatif sangat merugikan. Mungkin, masih banyak orang yang mengira bahwa hal itu merugikan orang lain. Padahal, yang paling rugi sebenarnya orang itu sendiri. Dia memang tidak menyadari hal itu. Tidak sadar kalau dirinya terkena efek negatif itu. Tapi, kalau dia renungkan; maka dia akan paham bahwa kegagalan, kegelisahan, kekecewaan yang mereka rasakan sesungguhnya merupakan buah dari pikiran dan sikapnya yang negatif itu. Karir yang kurang berkembang. Dijauhi orang-orang disekitarnya. Atau ‘tidak dianggap’ oleh orang lain. Merupakan beberapa diantara indikasinya. Jika Anda mengalami hal-hal diatas, sebaiknya cek kembali. Apakah Anda sudah terbebas dari pikiran dan sikap negatif?

Ini ada kisah kecil tentang dua saudara kembar. Sebut saja A dan B ya. Mereka sekolah ditempat yang sama. Jurusan yang sama. Lalu bekerja pun diperusahaan yang sama. Sekalipun demikian, kehidupan karir mereka ternyata jauh berbeda. Si A tampaknya melejit lebih cepat dari si B. Demikian pula dalam hal pergaulan. Si A lebih diterima oleh orang lainnya. Sedangkan si B, kayaknya orang lebih suka tidak berinteraksi deh dengan dia. Kenapa bisa begitu ya? Pertanyaan itu juga muncul di lubuk hati si B. Dia merasa jika dia sebaik si A. Sehebat si A. Tapi kenapa orang lebih suka berhubungan dengan saudara kembarnya itu. Bukan sama dia. Kenapa karirnya tidak sama baik juga dengan saudaranya itu. Minimal, samalah kan biar adil.  

Sekalipun begitu, si B ini menyimpan saja perasaan itu dalam hatinya. Dia merasa bahwa orang-orang itu sudah bersikap tidak fair. Dan management pun pilih kasih. Semakin lama, semakin banyak fakta yang dia temukan bahwa si A memang diberi keistimewaan. Lama kelamaan, dia percaya bahwa dunia ini memang tidak adil. Dan si B sadar, bahwa dirinya mesti menjadi penyeimbang agar ‘ketidakadilan’ itu bisa dihentikan. Walhasil, sekarang; si B ini menjadi orang yang sangat kritis. Dia selalu bisa menemukan ‘kelemahan’ atas apapun yang ada disekitarnya. Dan dia, tampil semakin hebat dengan kritikan-kritikan pedasnya.  

Hal itu berlangsung terus hingga bertahun-tahun sehingga lingkungannya mengenal si B sebagai tukang kritik. Mereka paham benar bahwa apapun yang dikatakan atau dilakukan seseorang, pasti dikritik si B. Kemudian orang-orang punya prinsip; ‘ya udahlah, dia mah emang orangnya begitu kok. Nggak usah dipikirin…..’ Pandangan kritisnya sekarang sudah tidak digubris lagi. Maklum, semua orang sudah tahu bahwa; dimatanya tidak akan ada hal yang bebas dari kritikan. Disisi lain, si B merasa betapa orang-orang ini degil sekali. Tidak mau lagi mendengarkan pendapat dia. Bukannya berterimakasih, mereka malah menjauhinya.

Anda bisa membayangkan situasi selanjutnya? Tentu, tidak ada lagi hubungan emosional antara si B dengan orang lain dikantornya. Kata-katanya yang tajam membuat orang lain tidak nyaman untuk sekedar bicara. Daya kritisnya yang membabi buta membuat orang lain menghindar darinya. Hal ini, diketahui persis oleh top management. Padahal, dengan sikap dan kondisi seperti itu; sehebat apapun si B, tidak akan cocok untuk menjadi pemimpin unit kerja. Karena bukannya akan solid sebuah team yang dipimpin seseorang dengan sikap dan pikiran negatif. Justru malah akan berantakan. Management tahu itu. Sehingga makin jauhlah si B dari perkembangan karirnya.

Anda mengira cerita saya ini fiktif belaka? Nggak ada kejadian seperti ini di dunia nyata? Hmmh… think again deh. Memang sih, Anda masih bisa melihat orang-orang dengan karakter seperti si B ini naik jabatan juga. Jadi atasan bagi orang lain. Memang ada yang begitu. Tapi, coba Anda perhatikan apakah anak buahnya pada kerasan dipimpin orang seperti itu. Sejauh yang saya ketahui, dipimpin oleh orang yang berpikiran dan bersikap negatif itu seperti tekanan batin deh. Gerah kerja sama dia. Malah banyak juga yang akhirnya pindah ke perusahaan lain. Anda melihat fenomena yang sama? Tentu saja.

Hal ini, ternyata tidak hanya berkaitan dengan hal-hal terkait pekerjaan. Kehidupan pribadinya pun ikut terpengaruh. Pacar misalnya. Pada awalnya dulu, si B ini punya pacar. Berkali-kali malah. Tapi tidak ada yang langgeng. Tidak tahu persis kenapa. Uniknya, mantan pacar-pacarnya sudah pada punya pacar lagi. Bahkan beberapa diantaranya sudah pada menikah. Ada apa sih dengan dunia ini? Begitu tanyanya. Dan begitu juga tanya orang lain. Tentu pertanyaan itu menggiringnya pada sebuah jawaban. Misalnya, jawaban yang diterima si B dari beberapa orang seniornya. “Kamu perbaiki deh pikiran dan sikapmu.”

Terhadap nasihat itu, si B selalu mempunyai respon standar berupa pertanyaan ini; “Memangnya kenapa dengan pikiran dan sikapku?” Pertanyaan yang bagus. Namun mencerminkan sikap defensif yang kuat. Penjelasan para seniornya tidak menghasilkan apa-apa selain argumen canggih lainnya. Si B, merasa bahwa tidak ada masalah dengan pikiran dan sikapnya. Dan dia masih meyakini itu meskipun lingkungannya sudah merespon sedemikian jelasnya. Tetapi, tidak ada yang bisa mengubah pandangan si B. Dia masih kukuh pada pendiriannya bahwa dirinya baik-baik saja. Lingkungannyalah yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Akhirnya, para seniornya pun menyerah.

Waktu berjalan terus. Sampai suatu saat ada seseorang yang memperlihatkan selembar foto. “B, coba kamu perhatikan foto ini,” kata orang aneh itu.
Si B mengambilnya. Lalu dilihatnya sekilas foto rame-rame orang sekantor itu. Dilihatnya ada juga wajahnya nongol disitu. Lalu. “Oh, iyya. Kenapa emang?” katanya tidak terlalu berselera. Lalu dikembalikannya foto itu kepada orang aneh tadi.

“Apa yang kamu lihat disana?” Tanya orang itu.
“Foto. Kenapa emangnya?” jawabnya. “Biasa-biasa aja tuch,” tambahnya tak acuh.
“Gunakan daya kritis yang selama ini kamu miliki B…” tegas orang itu.
“Kenapa sih?” sergahnya. “Lalu diambilnya foto itu. Dilihatnya sekali lagi. “Nggak ada yang istimewa.” Katanya. Tangannya mengulurkan foto itu.

Tapi orang itu tidak mengambilnya. “Perhatikan wajahmu disitu,” katanya.
Si B melirik fotonya lagi. “Terus?” ketusnya.
“Bandingkan wajahmu dengan wajah A.” kata orang aneh itu.
“Ngapain?!!!!” protes B.
“Udah, bandingkan saja.” Orang aneh ini tidak memberinya kesempatan.

Lalu, dengan raut wajah yang berat. Si B melihat kearah foto itu lagi. Melirik wajah A dengan sudut matanya. Untuk sesaat, dahinya mengerenyit. Lalu bibirnya bergerak sedikit. Kemudian, diletakkannya foto itu. “Biasa saja…..” katanya. Dia tidak melihat kearah orang aneh itu.

“Sekarang kamu bisa mengerti sumber dari semua ini…” kata orang itu.
“Semua ini apa?” nada bicara si A terdengar tajam. Menggambarkan seorang pribadi perkasa namun rapuh. Pertanda percaya dirinya tengah diuji.
“Semua penilaian kamu kepada dunia ini,” jawab orang itu. “Sadarilah B,” tambahnya. Bukan dunia ini yang bermasalah.”
“Terus siapa?” sergah B.
“Lihat wajahmu di foto itu,” kata orang aneh itu lagi. “Seperti itulah kamu menampilkan wajah kepada dunia yang menatapmu.” Kata-katanya tegas namun tenang. “Wajah yang dingin. Garis bibir yang ditekuk kebawah. Sorot mata yang tajam. Dan….”

“Memangnya masalah!?” Si B memotong kata-kata orang itu.
“Ya tinggal kamu renungkan saja.” Jawab orang itu. “Perhatikan wajah si A. Itulah wajah yang sehari-hari ditunjukkannya kepada dunia. Begitu sejuk. Bersahabat. Menyenangkan.”

“Jadi ini soal siapa yang pinter bermuka manis?” bantahnya. “Begitulah kalian. Lebih suka liat muka manis daripada kejujuran…..”

“Kamu bisa buktikan jika selama ini si A tidak jujur?” tantang orang itu. Jelas pertanyan yang cukup menohok.
“Bukan begitu…” jawab si B. Kelihatan sekali jika dia tidak siap dengan pertanyaan itu. “Tapi kan mestinya jangan menilai orang dari mukanya dong….”

“B…” suara orang itu terdengar lembut. “Wajah kita, mencerminkan perasaan kita.” Katanya. “Dan orang lain, bisa merasakannya.”

Si B terdiam.
“Dan B. Kita baru membahas tentang wajah yang kita bawa-bawa ini. Baru wajah kita B.” tambah orang aneh itu. “Bagaimana dengan cara kita berbicara dengan orang lain? Bagaimana dengan cara kita menyampaikan ketidaksepakatan dengan orang lain? Bagaimana dengan cara kita mengkritik orang lain…..”

Hening sejenak. Lalu…. “Apakah semuanya itu penting…..?”
“Yyyyyaaaa… jika kamu menganggap apa yang kamu alami selama ini itu penting, maka semuanya itu penting B…..” jawab orang aneh itu.

Tidak terdengar perkataan apapun lagi. Orang itu beranjak pergi. Meninggalkan B yang kini sudah membalikkan badannya. Menatap kearah kaca kantor. Tatapannya seperti sedang menyapu pemandangan hutan beton metropolitan. Dari sudut matanya. Ada sungai kecil yang mengalir. Tidak deras. Tapi. Orang aneh itu percaya bahwa itu adalah sungai kesadaran yang telah ditemukan saudaranya. Dia tahu bahwa saudaranya itu sudah memahami, bagaimana caranya untuk memperbaiki keadaan……

"Keputusan Memang Dibuat Berdasarkan Pilihan Terbaik Pada Saat Itu”

Kesal, marah, kecewa, sedih, senang, bahagia dan bahkan mungkin tertawa atau bersyukur.. itulah perasaan dan reaksi yang muncul di saat kita menjalani keputusan yang telah kita ambil entah itu memilih pendidikan yang inginn ditekuni, memilih pasangan hidup sehidup semati, memilih tempat berkarya sampai tiba pensiun, memilih lokasi tempat tinggal tuk berteduh sampai usia senja, atau bahkan memilih sahabat baik tuk menjadi bagian dari hidup dan sebagainya.  Pernahkah kita sesali keputusan yang telah kita ambil ? Tak dipungkiri tentu diantara kita pernah menyesali keputusan yang hasilnya mungkin tak seperti yang kita harapkan meski telah melalui proses pemikiran dan pertimbangan yang tidak sedikit dan kita pikirkan masak-masak. Tak perlu gundah dahulu dan tak perlu sesali apapun keputusan yang kita kita ambil dan jalankan karena keputusan yang telah kita buat dan putuskan adalah memang keputusan yang terbaik pada saat itu..... 
Marilah kita belajar untuk memahami bahwa waktu memang terus melangkah laju ke depan tanpa menghiraukan kita yang tertinggal atau ingin kembali untuk menghapuskan jejak-jejak langkah yang kita torehkan meski sesekali kepala menengok ke belakang. Yang pasti tiada jalan kita tuk kembali karena memang masa lalu tak akan pernah kembali dan yang ada hanyalah masa ke depan yang harus kita  hadapi dengan bekal keberanian. 
Pahamilah, kita tidak akan dapat mundur ke belakang, kita hanya dapat mengevaluasi kembali segala tindakan dan keputusan yang telah kita ambil dan jalankan meski duri tajam menghunus kalbu telah kita rasakan. Tak salah ketika penyesalan tidak akan pernah mengubah masa lalu dan tiada berguna menyesalinya berkepanjangan yang membuat energi dan pikiran kita habis terbuang. Introspeksi dan perbaiki keputusan-keputusan dan belajarlah dari banyak kesalahan yang terjadi. 
Tak mengapa tuk sesekali tengok ke belakang bila hanya sekedar membuat langkah berbeda sebagai langkah perbaikan. Anggaplah ia sebagai kerikil-kerikil seperti pandangan sinis dan cibiran orang disekitar yang mencobah goyahkan keyakinan kita dan nilai-nilai luhur  yang kita genggam erat, yang mesti disingkirkan dari jalan tujuan yang hendak kita lewati. Itulah mengapa orang bijak pernah berkata penyesalan berkepanjangan tiada guna dan tak mengubah apapun. 
Satu hal penting saat kita memutuskan sesuatu adalah kita telah belajar untuk menghargai keputusan kita dan apapun meski mungkin tak mengenakkan hasilnya dan sangat mengecewakan. Tak perlu sedih, kecewa, gundah, dan marah dengan segala keputusan dalam hidup ini ......Pahamilah nilai sebuah tanggung jawab diri kita petik di saat kita menghormati sebuah keputusan. Jadi, tak alasan kita untuk menyesal dengan keputusan yang telah kita ambil, bukan! 
Jadi, tak perlu menyalahkan segala penghambat jalan kita meski sebuah kerikil kecil di celah-celah jari kaki kita, singkirkan dengan begitu langkah kaki melangkah lebih mulus. Keberanian menghadapi hidup adalah kunci keberhasilan mengarungi buasnya samudera kehidupan untuk menggapai pulau kemenangan. Bila tidak, tak salah kehidupanlah yang mengendalikan kita, bukan! 
Seperti kata Jim Rohn, "Ketika kita mengubah diri, maka semua yang kita dapatkan di luar diri kita akan berubah", Brian Tracy,"Jika kita tidak mau merumuskan tujuan hidup bagi diri kita, maka kita akan bekerja untuk merealisasikan tujuan hidup orang lain" dan Anthony Robbin pun mengatakan bawah "Ketika kita menentukan keputusan hidup, maka saat itulah nasib kita sudah dicetak" 
Have a positive day! 

Thanks 4 adek jelek atas tulisan ini...

Senin, 24 Juni 2013

GUBUK YANG TERBAKAR

Sebuah Kisah Motivasi Islami

Badai kencang menerjang sebuah kapal yang sedang berlayar di tengah laut lepas, dan menenggelamkan kapal itu. Beberapa orang penumpang kapal berhasil selamat. Ada seorang laki-laki, yaitu salah seorang penumpang kapal yang terjun dan mengikuti arus ombak. Laki-laki itu berusaha menyelamatkan diri dengan harapan supaya ombak membawanya ke tepian. Ternyata dia berhasil. Akhirnya dia terdampar ke tepi sebuah pulau yang tidak dikenal. Setelah sadar dari pingsan, dia menarik nafas, mencoba bangkit dan berdiri, namun ternyata tidak kuat. Dia tumbang dan terjatuh. Tidak ada seorang pun yang menghuni pulau itu, di tepi laut yang sepi itu, dia memanjatkan permohonan kepada Allah SWT. Dia berdoa kepada Allah SWT agar Dia memberinya pertolongan dan bisa selamat dari kondisi yang kritis itu.

Tidak disangka sudah beberapa hari dia lalui hari-harinya di pulau asing itu, dan tetap bertahan hidup. Alam sekitar pulau menjadi sangat akrab menemani hari-harinya. Untuk menyambung hidup dia makan buah-buahan dan memburu kelinci. Persediaan air tawar pun cukup banyak. Karena di pulau itu ada anak sungai yang menyediakan air tawar untuk menghilangkan rasa haus dan dahaga. Sebuah gubuk kecil dan sangat sederhana dia bangun, sekedar cukup untuk berteduh dari terik matahari yang menggigit, bisa tidur, dan menyelimuti tubuhnya dari angin dan dinginnya cuaca malam hari. 

Pada suatu ketika, dia keluar untuk jalan-jalan dan berkeliling tidak jauh dari gubuknya seraya melihat apakah ada buah-buahan yang sudah matang dan bisa dipetik. Setelah mengelilingi kawasan tersebut, dia kembali pulang ke gubuknya. Ternyata gubuk dan sekelilingnya sudah dilahap oleh si jago merah. Dia berteriak sambil berontak, “Ya Tuhan, mengapa ini harus terjadi? Semua yang kumiliki di dunia ini sirna begitu saja. Padahal aku hanya seorang diri di pulau ini. Mengapa tiba-tiba gubuk kecil tempat aku tidur terbakar? Mengapa semua peristiwa ini terjadi padaku?” teriak laki-laki itu kesal dan sedih. Karena begitu kuat teriakannya, energinya terkuras habis. Dia tidak kuat dan tidak berdaya lagi, hingga akhirnya dia tertidur pulas dalam keadaan menahan rasa lapar.

Keesokan harinya dia terbangun. Setelah membuka mata, dia terkejut. Ternyata ada sebuah kapal besar datang menghampiri pulau itu. Beberapa orang awak kapal turun menolongnya. Sebelum naik, dia bertanya kepada mereka, “Bagaimana kalian bisa menemukan aku di sini?” Salah seorang awak kapal menjawab, “Dari kejauhan kami melihat ada asap mengepul hitam dan kobaran api di pulau ini. Sepengetahuan kami, itu pertanda ada seseorang yang sedang meminta pertolongan.”

Maha Suci dan Maha Agung, Dzat yang memberi tahu keadaan hamba-Nya yang sedang terjepit. Maha Suci Dzat Yang Mengatur segala sesuatu di alam semesta ini tanpa diketahui oleh hamba-hamba-Nya. Nah, jika Anda mengalami kondisi yang sangat terpuruk, jangan takut. Anda hanya dituntut untuk percaya dan yakin bahwa ada hikmah yang tersirat di balik itu. Berprasangka baiklah dengan yang Anda alami. Ketika gubuk Anda terbakar, ketahuilah bahwa Allah SWT sedang menolong Anda.

(Dikutip dari buku "Belajar dari Ayat-ayat Allah Yang Tersirat; kisah-kisah motivasi islami terfavorit," hal. 5 - 6)

Sumber : disini

Kamis, 06 Juni 2013

Dialog Yang Indah

Dialog yang INDAH..
Kalau menurut anda ini baik tolong di share apabila tdk jangan. Tp inilah yang di sebut rahasia di balik rahasia.

Aku (A): Tuhan, bolehkah aku bertanya PadaMU?
Tuhan (T): Tentu, hambaku. Silahkan

A: Tapi janji ya, Engkau takkan marah.
T: Ya, AKU janji.

A: Kenapa KAU izinkan banyak HAL BURUK terjadi padaku hari ini?
T: Apa Maksudmu?

A: Aku bangun terlambat.
T: Ya., Trus,

A: Mobilku mogok & butuh waktu lama tuk menyala.
T: Oke. Trus,

A: Roti yg kupesan dibuat tak seperti pesananku, hingga kumalas memakannya.
T: Hmm. Trus,

A: Dijalan pulang, HPku tiba2 mati saat aku b'bicara bisnis besar.
T: Benar. Trus,

A: Dan akhirnya, saat kusampai rumah, aku hanya ingin sedikit b'santai dg mesin pijat refleksi yg baru kubeli, tapi MATI! Knapa Tak ada yg LANCAR hari ini?
T: Biar KUperjelas HambaKU, ada malaikat kematian pagi tadi, dan AKU mengirimkan malaikatKU tuk b'perang melawannya agar tak ada hal buruk t'jadi padamu. KUbiarkan terTIDUR disaat itu.

A: Oh, tapi...
T: AKU tak biarkan mobilmu menyala TEPAT WAKTU karna ada pengemudi mabuk lewat didepan jalan & akan MENABRAKmu.

A: (merunduk)
T: Pembuat burgermu sedang sakit, AKU tak ingin kau tertular, oleh karenanya KUbuatnya salah bekerja.

A: (tarik nafas)
T: HPmu KUbuat mati karna mereka PENIPU, KUtak mungkin biarkanmu tertipu. Lagipula kan kacaukan KONSENTRASImu dlm mengemudi bila ada yg menghubungimu kala HP menyala.

A: (mataku berkaca-kaca) aku mengerti Tuhan
T: Soal mesin pijat refleksi, KUtau kau blm sempat beli voucher listrik, bila mesin itu nyalakan maka ambil banyak listrikmu, KU yakin kamu tak ingin berada dlm kegelapan.

A: (menangis tersedu) Maafkanku Tuhan.
T: Tak apa, tak perlu meminta maaf. Belajarlah tuk percaya PADAKU.


RencanaKU padamu lebih baik dari rencanamu sendiri.
Yakinlah bahwa Tuhan selalu baik
Yakinlah segala Usahamu PASTI Sampai
Belajarlah tuk slalu bersyukur atas APAPUN yg terjadi,
Karna Semua Kan INDAH Pada Waktunya.


Sumber : disini

Senin, 20 Mei 2013

Surat dari Ayah dan Ibu untuk anaknya



Orang bilang anakku orang penting, kata mereka namanya tersohor dimana-mana. Orang bilang anakku orang penting,  Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku orang penting  Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? “Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.”Anakku, sejak mereka bilang engkau orang penting ibu kembali mematut diri menjadi ibu orang penting. Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.


kasihsayangseorangibu.jpg (184×275)


Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini .Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini,tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..


Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib perusahaanmu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota perusahaanmu nak ?



Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu .Buku agenda sang Pekerja.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini,ada jadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membuka lembar demi lembarnya,disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku..


Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ? Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..


Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kaka dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.





Maafkan aku ibu yang selama ini telah membuat hatimu yang lembut itu terluka,,

aku mohon maafkan aku IBU


Untuk video klik disini