Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
Sudah banyak bukti jika pikiran dan sikap negatif sangat merugikan. Mungkin, masih banyak orang yang mengira bahwa hal itu merugikan orang lain. Padahal, yang paling rugi sebenarnya orang itu sendiri. Dia memang tidak menyadari hal itu. Tidak sadar kalau dirinya terkena efek negatif itu. Tapi, kalau dia renungkan; maka dia akan paham bahwa kegagalan, kegelisahan, kekecewaan yang mereka rasakan sesungguhnya merupakan buah dari pikiran dan sikapnya yang negatif itu. Karir yang kurang berkembang. Dijauhi orang-orang disekitarnya. Atau ‘tidak dianggap’ oleh orang lain. Merupakan beberapa diantara indikasinya. Jika Anda mengalami hal-hal diatas, sebaiknya cek kembali. Apakah Anda sudah terbebas dari pikiran dan sikap negatif?
Ini ada kisah kecil tentang dua saudara kembar. Sebut saja A dan B ya. Mereka sekolah ditempat yang sama. Jurusan yang sama. Lalu bekerja pun diperusahaan yang sama. Sekalipun demikian, kehidupan karir mereka ternyata jauh berbeda. Si A tampaknya melejit lebih cepat dari si B. Demikian pula dalam hal pergaulan. Si A lebih diterima oleh orang lainnya. Sedangkan si B, kayaknya orang lebih suka tidak berinteraksi deh dengan dia. Kenapa bisa begitu ya? Pertanyaan itu juga muncul di lubuk hati si B. Dia merasa jika dia sebaik si A. Sehebat si A. Tapi kenapa orang lebih suka berhubungan dengan saudara kembarnya itu. Bukan sama dia. Kenapa karirnya tidak sama baik juga dengan saudaranya itu. Minimal, samalah kan biar adil.
Sekalipun begitu, si B ini menyimpan saja perasaan itu dalam hatinya. Dia merasa bahwa orang-orang itu sudah bersikap tidak fair. Dan management pun pilih kasih. Semakin lama, semakin banyak fakta yang dia temukan bahwa si A memang diberi keistimewaan. Lama kelamaan, dia percaya bahwa dunia ini memang tidak adil. Dan si B sadar, bahwa dirinya mesti menjadi penyeimbang agar ‘ketidakadilan’ itu bisa dihentikan. Walhasil, sekarang; si B ini menjadi orang yang sangat kritis. Dia selalu bisa menemukan ‘kelemahan’ atas apapun yang ada disekitarnya. Dan dia, tampil semakin hebat dengan kritikan-kritikan pedasnya.
Hal itu berlangsung terus hingga bertahun-tahun sehingga lingkungannya mengenal si B sebagai tukang kritik. Mereka paham benar bahwa apapun yang dikatakan atau dilakukan seseorang, pasti dikritik si B. Kemudian orang-orang punya prinsip; ‘ya udahlah, dia mah emang orangnya begitu kok. Nggak usah dipikirin…..’ Pandangan kritisnya sekarang sudah tidak digubris lagi. Maklum, semua orang sudah tahu bahwa; dimatanya tidak akan ada hal yang bebas dari kritikan. Disisi lain, si B merasa betapa orang-orang ini degil sekali. Tidak mau lagi mendengarkan pendapat dia. Bukannya berterimakasih, mereka malah menjauhinya.
Anda bisa membayangkan situasi selanjutnya? Tentu, tidak ada lagi hubungan emosional antara si B dengan orang lain dikantornya. Kata-katanya yang tajam membuat orang lain tidak nyaman untuk sekedar bicara. Daya kritisnya yang membabi buta membuat orang lain menghindar darinya. Hal ini, diketahui persis oleh top management. Padahal, dengan sikap dan kondisi seperti itu; sehebat apapun si B, tidak akan cocok untuk menjadi pemimpin unit kerja. Karena bukannya akan solid sebuah team yang dipimpin seseorang dengan sikap dan pikiran negatif. Justru malah akan berantakan. Management tahu itu. Sehingga makin jauhlah si B dari perkembangan karirnya.
Anda mengira cerita saya ini fiktif belaka? Nggak ada kejadian seperti ini di dunia nyata? Hmmh… think again deh. Memang sih, Anda masih bisa melihat orang-orang dengan karakter seperti si B ini naik jabatan juga. Jadi atasan bagi orang lain. Memang ada yang begitu. Tapi, coba Anda perhatikan apakah anak buahnya pada kerasan dipimpin orang seperti itu. Sejauh yang saya ketahui, dipimpin oleh orang yang berpikiran dan bersikap negatif itu seperti tekanan batin deh. Gerah kerja sama dia. Malah banyak juga yang akhirnya pindah ke perusahaan lain. Anda melihat fenomena yang sama? Tentu saja.
Hal ini, ternyata tidak hanya berkaitan dengan hal-hal terkait pekerjaan. Kehidupan pribadinya pun ikut terpengaruh. Pacar misalnya. Pada awalnya dulu, si B ini punya pacar. Berkali-kali malah. Tapi tidak ada yang langgeng. Tidak tahu persis kenapa. Uniknya, mantan pacar-pacarnya sudah pada punya pacar lagi. Bahkan beberapa diantaranya sudah pada menikah. Ada apa sih dengan dunia ini? Begitu tanyanya. Dan begitu juga tanya orang lain. Tentu pertanyaan itu menggiringnya pada sebuah jawaban. Misalnya, jawaban yang diterima si B dari beberapa orang seniornya. “Kamu perbaiki deh pikiran dan sikapmu.”
Terhadap nasihat itu, si B selalu mempunyai respon standar berupa pertanyaan ini; “Memangnya kenapa dengan pikiran dan sikapku?” Pertanyaan yang bagus. Namun mencerminkan sikap defensif yang kuat. Penjelasan para seniornya tidak menghasilkan apa-apa selain argumen canggih lainnya. Si B, merasa bahwa tidak ada masalah dengan pikiran dan sikapnya. Dan dia masih meyakini itu meskipun lingkungannya sudah merespon sedemikian jelasnya. Tetapi, tidak ada yang bisa mengubah pandangan si B. Dia masih kukuh pada pendiriannya bahwa dirinya baik-baik saja. Lingkungannyalah yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Akhirnya, para seniornya pun menyerah.
Waktu berjalan terus. Sampai suatu saat ada seseorang yang memperlihatkan selembar foto. “B, coba kamu perhatikan foto ini,” kata orang aneh itu.
Si B mengambilnya. Lalu dilihatnya sekilas foto rame-rame orang sekantor itu. Dilihatnya ada juga wajahnya nongol disitu. Lalu. “Oh, iyya. Kenapa emang?” katanya tidak terlalu berselera. Lalu dikembalikannya foto itu kepada orang aneh tadi.
“Apa yang kamu lihat disana?” Tanya orang itu.
“Foto. Kenapa emangnya?” jawabnya. “Biasa-biasa aja tuch,” tambahnya tak acuh.
“Gunakan daya kritis yang selama ini kamu miliki B…” tegas orang itu.
“Kenapa sih?” sergahnya. “Lalu diambilnya foto itu. Dilihatnya sekali lagi. “Nggak ada yang istimewa.” Katanya. Tangannya mengulurkan foto itu.
Tapi orang itu tidak mengambilnya. “Perhatikan wajahmu disitu,” katanya.
Si B melirik fotonya lagi. “Terus?” ketusnya.
“Bandingkan wajahmu dengan wajah A.” kata orang aneh itu.
“Ngapain?!!!!” protes B.
“Udah, bandingkan saja.” Orang aneh ini tidak memberinya kesempatan.
Lalu, dengan raut wajah yang berat. Si B melihat kearah foto itu lagi. Melirik wajah A dengan sudut matanya. Untuk sesaat, dahinya mengerenyit. Lalu bibirnya bergerak sedikit. Kemudian, diletakkannya foto itu. “Biasa saja…..” katanya. Dia tidak melihat kearah orang aneh itu.
“Sekarang kamu bisa mengerti sumber dari semua ini…” kata orang itu.
“Semua ini apa?” nada bicara si A terdengar tajam. Menggambarkan seorang pribadi perkasa namun rapuh. Pertanda percaya dirinya tengah diuji.
“Semua penilaian kamu kepada dunia ini,” jawab orang itu. “Sadarilah B,” tambahnya. Bukan dunia ini yang bermasalah.”
“Terus siapa?” sergah B.
“Lihat wajahmu di foto itu,” kata orang aneh itu lagi. “Seperti itulah kamu menampilkan wajah kepada dunia yang menatapmu.” Kata-katanya tegas namun tenang. “Wajah yang dingin. Garis bibir yang ditekuk kebawah. Sorot mata yang tajam. Dan….”
“Memangnya masalah!?” Si B memotong kata-kata orang itu.
“Ya tinggal kamu renungkan saja.” Jawab orang itu. “Perhatikan wajah si A. Itulah wajah yang sehari-hari ditunjukkannya kepada dunia. Begitu sejuk. Bersahabat. Menyenangkan.”
“Jadi ini soal siapa yang pinter bermuka manis?” bantahnya. “Begitulah kalian. Lebih suka liat muka manis daripada kejujuran…..”
“Kamu bisa buktikan jika selama ini si A tidak jujur?” tantang orang itu. Jelas pertanyan yang cukup menohok.
“Bukan begitu…” jawab si B. Kelihatan sekali jika dia tidak siap dengan pertanyaan itu. “Tapi kan mestinya jangan menilai orang dari mukanya dong….”
“B…” suara orang itu terdengar lembut. “Wajah kita, mencerminkan perasaan kita.” Katanya. “Dan orang lain, bisa merasakannya.”
Si B terdiam.
“Dan B. Kita baru membahas tentang wajah yang kita bawa-bawa ini. Baru wajah kita B.” tambah orang aneh itu. “Bagaimana dengan cara kita berbicara dengan orang lain? Bagaimana dengan cara kita menyampaikan ketidaksepakatan dengan orang lain? Bagaimana dengan cara kita mengkritik orang lain…..”
Hening sejenak. Lalu…. “Apakah semuanya itu penting…..?”
“Yyyyyaaaa… jika kamu menganggap apa yang kamu alami selama ini itu penting, maka semuanya itu penting B…..” jawab orang aneh itu.
Tidak terdengar perkataan apapun lagi. Orang itu beranjak pergi. Meninggalkan B yang kini sudah membalikkan badannya. Menatap kearah kaca kantor. Tatapannya seperti sedang menyapu pemandangan hutan beton metropolitan. Dari sudut matanya. Ada sungai kecil yang mengalir. Tidak deras. Tapi. Orang aneh itu percaya bahwa itu adalah sungai kesadaran yang telah ditemukan saudaranya. Dia tahu bahwa saudaranya itu sudah memahami, bagaimana caranya untuk memperbaiki keadaan……